Kisah Harifin di Perkara Aspac

Februari 22, 2008 at 9:05 pm Tinggalkan komentar

Keberadaan Hakim Harifin A. Tampa dalam perkara kepemilikan Gedung Aspac sudah sejak awal. Mengapa dia tidak konsisten?

Karir hakim Harifin A. Tampa seolah melaju pesat hingga akhirnya menduduki jabatan Wakil Ketua Mahkamah Agung. Terkadang harum, namun kerap kontroversial. Dia juga sempat berpolemik seru dengan Ketua Komisi Yudisial dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan dalam urusan yang bersifat prinsip.

Namun, dalam sengketa kepemilikan Gedung Aspac, dia terkesan tidak konsisten. Seperti diketahui, Gedung Century Tower atau yang dikenal gedung Aspac yang terletak di Jalan HR.Rasuna Said Kaveling, X-2 nomor 4 Kuningan Timur, Jakarta Selatan.Merupakan Jaminan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp 1,6 triliun kepada Bank Aspac. Kemudian gedung Aspac menjadi salah satu aset yang dilelang oleh BPPN melalui Program Penjualan Aset Properti III (PPAP III) di mana setelah melalui proses lelang yang terbuka pada tanggal 21 Agustus 2003 BPPN mengeluarkan Surat Penetapan Pemenag nonor Prog 0093/PPAP3/BPPN/0803 yang menyatakan PT Bumijawa Sentosa sebagai pemenang lelang atas gedung tersebut yang diikuti jual beli tanggal 2 Desember 2003.

Pada tanggal 4 Desember 2003 dan 29 Desember 2003 pihak BPPN dan PT Bumijawa Sentosa telah menegur PT Mitra Bangun Griya (MBG) untuk meninggalkan gedung Aspac, namun tidak ditanggapi. Pada tanggal 3 Februari 2004 PT Bumijawa Sentosa mengajukan gugatan pengosongan kepada PT MBG pada tanggal 4 Februari 2004 yang terregister dengan nomor 63/Pdt.G/2004/PN.Jak.Sel yang kemudian dimenangkan oleh PT Bumijawa Sentosa. Putusan ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta, yang waktu itu Ketua majelis Hakimnya Harifin A.Tumpa dan telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) dengan keluarnya putusan Mahkamah Agung RI tanggal 31 Januari 2007 nomor 158K/PDT/2005 Jo nomor 325/PDT/2004/PT.DKI Jo nomor 063/PDT.G/2004/PN.Jak.Sel.

Upaya-upaya eksekusi pun dilakukan. Pertama, berdasarkan Putusan serta-merta (uitvoerbaar bij voorrad) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 63/Pdt.G/2004/PN.Jak.Sel tanggal 20 April 2004. Ini juga atas izin dari Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta melalui surat nomor PTJ.PDT.624.1266.2004 tanggal 7 Juni 2004 yang saat itu dijabat oleh Harifin A. Tumpa.

Namun gagal, karena koordinasi yang telah dilakukan dengan aparat keamanan telah diingkari oleh aparat kepolisian sendiri yaitu dengan tidak mengirimkan personilnya dan tidak menerbitkan sekitar 500 preman yang disewa oleh pihak PT MBG saat eksekusi tanggal 11 Agustus 2004.

Eksekusi kedua pun berlanjut. Hal ini dilakukan berdasarkan surat Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tertanggal 24 agustus 2004 perihal pemberitahuan eksekusi pengosongan lanjutan. Berisi pemberitahuan bahwa eksekusi lanjutan akan dilaksanakan tanggal 1 September 2004. Lagi-lagi gagal, karena ada surat dari Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta Harifin.A.Tumpa tanggal 27 Agustus 2004 kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang berisi agar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan meminta ijin terlebih dahulu kepada Mahkamah Agung karena perkara itu telah diputus oleh pengadilan tingkat banding.

Sejauh pemahaman, surat tersebut sangat prematur dan terkesan dipaksakan untuk menunda eksekusi karena saat itu putuisan tingkat banding belum diberitahukan kepada PT Bumijawa Sentosa (pemberitahuan baru dilakukan 1 September 2004) namun Harifin A. Tumpa mendasarkan putusan Pengadilan Tinggi tersebut untuk menunda eksekusi. Padahal berdasrkan hukum acara yang berlaku, putusan serta merta dapat dilakukan walaupun ada upaya hukum banding, kasasi maupun upaya hukum lainnya.

Tak cukup itu, upaya eksekusi ketiga pun dilakukan dengan berdasarkan surat dari Harifin.A.Tumpa selaku Ketua Muda bidang Perdata Mahkamah Agung RI nomor 635/834/P/2006/SK.Perd tanggal 26 November 2007 kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, yang meminta penjelasan berkaitan dengan tidak dilaksankannya eksekusi atas gedung Aspac. Landasannya lainnya, surat Ketua Pengadila Negeri Jakarta Selatan nomor W10-U3.Ht.04.10.01.30 tanggal 4 Januari 2008 kepada Ketua Muda bidang Perdata MA-RI (Harifin.A.Tumpa) yang pada intinya akan melaksanakan eksekusi sesuai dengan hukum acara perdata yang berlaku. Apalagi ada Penetapan Ketua Pengadila Negeri Jakarta Selatan nomor 63/Pdt.G/2004/PN.Jak.Sel tanggal 25 Janurai 2008 untuk eksekusi pengosongan atas gedung Aspac.

Apa mau dikata, eksekusi ketiga kembali gagal karena campur tangan Harifin.A.Tumpa selaku Ketua Muda bidang Perdata MA-RI dengan membuat surat nomor 10/Tuada Pdt/II/2008 tanggal 11 Februari 2008. Surat ini mengandung kejanggalan karena surat yang merupakan tanggapan dari surat Sdr Marselina Simatupang,SH dkk selaku kuasa hukum termohon eksekusi (PT MBG) nomor 042/LP/LT/II/2008 hari Rabu tanggal 6 Februari 2008 ditanggapi oleh Tuada Perdata MA-RI Harifin.A. Tumpa pada hari Senin tanggal 11 Februari 2008, dengan demikian surat tersebut ditanggapi dalam 2 hari kerja. Padahal sejak dari Ketua pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 4 Januari 2008 yang memberitahukan rencana eksekusi kepada Ketua Muda bidang Perdata MA-RI (Harifin.A.Tumpa) dan sampai dengan keluarnya penetapan eksekusi tanggal 25 Januari 2008 tidak pernah ada pertanyaan maupun pernyataan apapun dari Ketua Muda bidang Perdata MA-RI ( Harifi A. Tumpa) mengenai rencana eksekusi tersebut apalagi untuk memunda/ membatalkannya.

Tekesan, Harifin.A.Tumpa sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta pada waktu itu dan sebagai Ketua Muda bidang Perdata MA-RI telah melecehkan atau mengorbankan hukum dan menciptakan ketidakpastian hukum serta mengindikasi adanya kepentingan Harifin.A.Tumpa yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Muda MA-RI bidang Nonyudisial terhadap gedung Aspac.

Sejak awal, pemerintah memang kesulitan untuk mendapatkan uang hasil pengelolaan bekas gedung milik bank Aspac itu. Sampai-sampai Polda Metro Jaya diminta bantuan menangkap mantan petinggi PT Mitra Bangun Griya, pengelola gedung Bank Aspac, yakni Mantan petinggi Mitra Bangun tersebut adalah Rudy Sulaeman (bekas direktur utama) dan Deni (bekas komisaris). Dosa mereka adalah tidak menyetorkan uang hasil pengelolaan gedung Aspac selama tujuh tahun (1997-2003) senilai Rp 30 miliar ke BPPN. Padahal, uang itu merupakan bagian dari kewajiban Bank Aspac untuk melunasi BLBI.

Selain itu, bekas Direktur Utama PT Mitra Bangun Griya Tjiandra Wijaya Wong sampai sekarang masih buron. Dikabarkan, dia bertahan di Singapura dengan berbagai cara persembunyian. Anggota DPR periode 1999-2004 dari Fraksi PDI Perjuangan itu mengaku tidak ingin bernasib sama seperti dua koleganya, Rudy Soelaiman (Direktur Mitra Bangun) dan Denny (komisaris) yang sudah ditahan polisi terkait dengan kasus gedung Aspac. sofyan hadi

Entry filed under: AKTUAL, SENSOR EKONOMI, SENSOR HUKUM. Tags: .

Mengapa Meninggal di Penjara? HAKIM AGUNG VS HAKIM NEGERI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Blog Stats

  • 6,970 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

Kategori

NOMOR TELEPON PENTING

Pengaduan Hukum & HAM Komnas HAM 021-3925253 YLKI 021-7971378 LBH Jakarta 021-3145518 PBHI 021-322084 POLISI Mabes Polri 021-7218555 Polda Metro Jaya 021-5234000 Polres Jakarta Pusat 021-3909921-22 Polres Jakarta Utara 021-431394 Polres Jakarta Barat 021-5480303 Polres Jakarta Selatan 021-7206004 Polres Jakarta Timur 021-8191476 KODAM Kodam Jaya 021-8090837 Kodim Jakarta Pusat 021-6540103 Kodim Jakarta Utara 021-6512584 Kodim Jakarta Barat 021-5671189 Kodim Jaksel 021-7203070 Kodim Jakarta Timur 021-4804719 PEMADAM KEBAKARAN Jakarta Pusat 021-3841216 Jakarta Barat 021-5682284 Jakarta Timur 021-5852150 Jakarta Utara 021-493045 Jakarta Selatan 021-7694519
Jangan Asal Copy Paste Ya...

%d blogger menyukai ini: