Adu Kuat Pasal Ringtone

Januari 29, 2008 at 10:55 am Tinggalkan komentar

Djoni Tan hanyalah pedagang, yang kebetulan memanfaatkan tren penggunaan ringtone sebagai peluang bisnis. Namun polisi bersikap lain, Djoni pun digelandang ke dalam tahanan.Bermula pada sekitar pertengahan tahun 2005, ketika Djoni Tan tergiur untuk membuka usaha pengisian (download) musik (ringtone) ke dalam telepon genggam. Dia kemudian mempersiapkan segala persyaratannya, termasuk meminta informasi lisensi kepada Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Departemen Hukum dan HAM. Akhirnya, dia mendapatkan perizinan dan lisensi dari Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI).

Berbekal izin dan modal secukupnya, berdirilah usaha pengisian (download) musik (ringtone) ke dalam telepon genggam dengan gerai berlabel “Download Mania”. Seiring dengan semakin bertambahnya peminat ringtone seiring itu pula perekembangan bisnis Djoni. Terbukti selain membuka gerai di pusat perdagangan telepon genggam ITC Roxi juga punya gerai di sejumlah pusat perbelanjaan ramai lainnya.

Setelah dua tahun membina hubungan dengan pelanggan, menjalin hubungan bisnis dengan relasi serta memberikan kesempatan kerja kepada belasan anak muda, pada 9 November 2007 merupakan tanggal bersejarah bagi perjalanan hidupnya. Betapa tidak, ketika dia sedang tidak berada di salah satu gerai, sore sekitar pukul 3, polisi dari Unit I Industri Perdagangan, Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri menggerebek gerai “Download Mania” yang berada di Blok M Plaza.

Terbayangkan, saat itu kondisi mal sedang ramai sehingga tindakan polisi itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Malah, saat polisi melakukan penyitaan, sempat terjadi ketegangan dengan petugas keamanan. Namun, polisi punya kuasa dan beralasan, empunya empunya gerai telah melanggar Undang-Undang nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Djoni pun dijerat dengan pasal 72 ayat (1) dan (2) Undang-Undang nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Djoni yang mendapatkan kabar anak buah digelandang ke kantor polisi segera menyusul untuk mengetahui sebab-musababnya. Namun, belum sempat dia memberikan bukti sah usaha, polisi yang bertugas malah menjebloskannya ke dalam tahanan. Sejak inilah nasib Djoni berubah, dia kini menjadi pesakitan dengan pasal yang tak diketahuinya.

Djoni Tan pun telah menjalani masa penahanan selama 60 hari. Namun, selama dalam masa penahanan tersebut, pada awal tahun 2008 (2/1) pihak kuasa hukum mengajukan permohonan Praperadilan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap Kapolri cq Direktur Ekonomi dan Khusus (Direksus) Bareskrim Mabes Polri.

Selain itu, Kajati DKI Jakarta cq Asisten Pidana Umum juga ditarik sebagai turut termohon. Lagi-lagi usaha Djoni kandas, karena dalam putusan majelis hakim yang dipimpin Eddy Risdianto, Dewi Keberuntungan masih berpihak kepada Polisi. Sebab menurut pertimbangan hakim, upaya yang dilakukan penyidik telah sesuai dengan ketentuan kitab undang-undang hukum acara pidana (KUHAP).

Belum punya bukti
Apa yang dilakukan polisi sebenarnya mencoreng citra korps secara keseluruhan. Pasalnya, hingga saat ini kepolisian belum mampu membuktikan kesalahan Djoni Tan sang pengusaha ringtone. Malah, ketika masa penahanan selama 60 hari usai, polisi sempat membebaskan Djoni.

“Tapi, karena polisi selalu merasa benar, Djoni kembali masuk bui sebagai tahanan titipan Mabes Polri dengan kasus yang berbeda. Klien kami dijerat dengan pasal-pasal lain, namun hingga kini belum jelas apa kesalahannya,” kata Endi Martono, kuasa hukum Djoni.

Endi Martono melihat gelagat yang tidak beres dalam penanganan kasus Djoni. Ia menduga ada motif persaingan bisnis. Sebab dalam penggrebekan tersebut, empunya gerai serupa dengan kliennya dibiarkan oleh petugas kepolisian bebas menjual lagu kepada konsumen. “Padahal mereka (pemilik kios ringtone, red) belum tentu memilik izin dari KCI,” kata kuasa hukum dari Kantor ND Solicitor itu seraya menambahkan pernah melayangkan surat kepada Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), yang isinya meminta agar memeriksa petugas polisi yang menangani kasus Djoni Tan.

Diungkapkan Endi Martono, sepengetahuannya belum ada kententuan hukum di Indonesia yang mengatur mengenai download lagu/musik. Sebab mengisi lagu atau musik ke dalam telepon seluler dengan cara mendownload adalah tindakan pidana yang bersifat konvensional.”Dalam pengertian masih dibutuhkan pembuktian sebelum dinyatakan sebagai pelanggaran atau bukan,” urainya.

Ditambahkan, berdasarkan informasi kalangan musisi kesalahan yang sebenarnya berada dipihak KCI sebagai pemberi legalisasi.”Karena tersangka telah membayar sejumlah royalti kepada KCI, plun ppn sebesar 10 persen” jelasnya.

Padahal jelas lelaki jebolan Universitas Pancasila, kliennya telah memiliki surat lisensi dari KCI. KCI Sebuah organisasi yang telah diberi kuasa oleh para pencipta lagu atau musik untuk memungut royalti dari para pemakai karya lagu di Indonesia.

Bukan itu saja, lelaki kelahiran Rantau Parapat, Sumatera Utara telah membayar royalti sebesar Rp 11 juta. Selain itu di pusat perdagangan handphone terbesar se-Asia Tenggara, banyak outlet- outlet lainnya yang menjalankan bisnis seperti miliknya.

Sementara di tempat terpisah, musisi sekaligus pencipta lagu James F Sundah yang juga aktif di YKCI menyayangkan banyak pihak yang tidak mengerti UU 12/2002 tentang HKI. “Ini juga akibat ketidakpahaman berbagai pihak atas UU tentang Hak Cipta,” imbuhnya.

Memang diakui James, seiring perkembangan teknologi Hand Phone ringtone yang tadinya berupa nada-nada saja telah berganti menjadi true tone. “Di sinilah masalahnya. Setelah menjadi true tone, pihak recording sekarang memiliki mechanical right atas suara tersebut karena mereka yang memproduksi lagu-lagu itu,” jelas James.

Meski begitu, pihak recording, lanjut James, harus menyosialisasikan kepada para pebisnis kewajiban mereka atas hak yang harus dibayar. “Jadi tidak semena-mena seperti ini,” pungkasnya.

Ditengarai sejumlah pengusaha ringtone di lokasi ‘kepala naga’ Glodok, Jakarta Barat tidak mempunyai legalisasi dari KCI. Namun hingga kini keberadaannya seperti ‘dilegalkan’ dan tidak ada tindakan dari pihak aparat hukum. Faktanya, puluhan bahkan ratusan pedagang bebas menggelar usaha VCD/DVD bajakan.

Bahkan di kawasan pecinan tersebut, Glodok merupakan barometer penjualan kaset bajakan terbesar di Indonesia. Dalam satu hari daerah itu, mampu menjual ribuan keping VCD, DVD atau kaset bajakan kepada konsumen untuk didistribusikan lagi ke penjuru nusantara.

Apalah daya, kini nasib Djoni seolah sudah bersalah. Di dalam tahanan, dia kini hanya merenungi diri sembari mencari tahu kesalahan sesungguhnya. Hanya polisi yang tahu? sofyan hadi

Entry filed under: TOPIK UTAMA. Tags: .

Sulitnya Memberantas “Trafficking” Aneh, SPBU Tanpa Surat Perjanjian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 6,970 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

Kategori

NOMOR TELEPON PENTING

Pengaduan Hukum & HAM Komnas HAM 021-3925253 YLKI 021-7971378 LBH Jakarta 021-3145518 PBHI 021-322084 POLISI Mabes Polri 021-7218555 Polda Metro Jaya 021-5234000 Polres Jakarta Pusat 021-3909921-22 Polres Jakarta Utara 021-431394 Polres Jakarta Barat 021-5480303 Polres Jakarta Selatan 021-7206004 Polres Jakarta Timur 021-8191476 KODAM Kodam Jaya 021-8090837 Kodim Jakarta Pusat 021-6540103 Kodim Jakarta Utara 021-6512584 Kodim Jakarta Barat 021-5671189 Kodim Jaksel 021-7203070 Kodim Jakarta Timur 021-4804719 PEMADAM KEBAKARAN Jakarta Pusat 021-3841216 Jakarta Barat 021-5682284 Jakarta Timur 021-5852150 Jakarta Utara 021-493045 Jakarta Selatan 021-7694519
Jangan Asal Copy Paste Ya...

%d blogger menyukai ini: