MISTERI TENGAH MALAM

Januari 24, 2008 at 8:30 am Tinggalkan komentar

Suasana Jakarta, pada Jumat (11/1) petang hingga Sabtu (12/1) dini hari, tampak begitu tegang. Tak tanggung-tanggung, Presiden SBY yang sedang berada di Malaysia harus mengutus khusus Jaksa Agung Hendarman Supandji menemui Keluarga Suharto di RS Pusat Pertamina pada tengah malam. Apa pasal?

Ketika itu, tim dokter kepresidenan yang diketuai Mardjo Soebandono menyatakan, pada pukul 17.00, Jumat (11/1), pekan lalu, terjadi kegawatan, kesadaran menurun, pernapasan menurun 90/45 mmHg, sehingga dilakukan upaya tindakan demi kelangsungan hidup Pak Harto. Sejak itu pula kondisi kesehatan mantan presiden itu dinyatakan dalam kondisi sangat kritis.

Tanda-tanda Pak Harto akan mangkat semakin terasa. Hampir semua keluarga besar Suharto berkumpul, sementara para petinggi di negeri ini dan tamu penting lainnya silih berganti berdatangan. Samar-samar terdengar orang membacakan ayat suci dari kamar perawatan bos Supersemar itu.

Beberapa tamu penting mengatakan, semua sudah kumpul dan menangis. Namun, sekitar pukul 23.00, Jumat malam, Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebandono menegaskan, Pak Harto belum meninggal, sekarang ini kondisi tekanan darahnya 130/70 mmHg dengan alat bantu nafas ventilator dan alat menyedot cairan.

Manakala semua menunggu dengan was-was, sekitar pukul 00.30, Sabtu (12/1) dini hari, Jaksa Agung Hendraman Supandji. Mengenakan jaket putih, dia tampak turun dari mobil Toyota Camri bernopol B 2035 BS didamping pengawal yang menumpang mobil B 8651 AQ. Dia langsung bergegas masuk rumah sakit.

Satu jam kemudian, komanda korps Adhyakas itu keluar dan memberikan keterangan, datang atas petunjuk Presiden SBY yang sedang berada di Malaysia. Usulan yang diajukan telah disampaikan ke putri Soeharto, Mbak Tutut. “Tapi dia belum memutuskan saat ini. Ini kan kasus perdatanya, jadi tuntutan pemerintah bisa dipertemukan di suatu titik,” katanya.

Rupanya, tindakan Jaksa Agung itu disikapi keras oleh sejumlah pihak berpengaruh. Ada yang menyebutkan, pemerintah sengaja memanfaatkan suasana dengan menekan Keluarga Suharto untuk memberikan sebagian hartanya.

Pemerintah yang kebakaran jenggot terpaksa mengambil sikap. Seusai mempercepat pulang melawat dari Malaysia, Presiden SBY langsung menggelar rapat dengan tim dokter kepresidenan di Halim Perdanakusma. Siangh harinya, sekitar pukul 13.40, Presiden SBY kembali melakukan rapat kabinet terbatas di Cikeas, tampak hadir Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkopolkam Widodo AS serta Kapolri Jenderal Sutanto.

Usai rapat, SBY mengatakan, “Beri kesempatan tim dokter mengatasi masalah kesehatan Pak Harto. Hentikan debat polemik dan silang pendapat yang kurang tepat untuk sekerang ini.”

Hendarman menjawab
Kehadiran tengah malam Jaksa Agung ke RSPP masih tetap menimbulkan misteri. Seolah tak ingin menjadi korban kesalahan, Hendraman Supandji akhirnya menjelaskan apa yang terjadi pada dini hari, 12 Januari 2008. Ia mentakana, kedatangnya ke rumah sakit berlogo kuda laut itu, beralaskan surat kuasa Presiden SBY sebagai pengacara negara (JPN). Dari pertemuan tersebut, ia mengaku diterima kelurga Soeharto antara lain Siti Hardiyanti Indra Rukmana dan Bambang Trihatmojo untuk menyelesaikan kasus perdata ayahnya.

“Saya memegang surat kuasa dari Presiden. Dalam pemikiran saya, penyelesaian kasus perdata Soeharto ya harus melalui koridor hukum,” ujar Hendarman di Istana Negara, Jakarta, Kamis (17/1). Namun, seperti dituturkan Hendarman, respon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas permintaan keluarga Soeharto tidak ditanggapi pihak-pihak yang menerima Hendarman.

“Saya diterima Mbak Tutut, Mas Bambang Tri,” ujarnya. Hendarman tidak mengetahui kenapa dirinya yang memegang surat kuasa Presiden Yudhoyono sehingga datang pada dini hari “dicuekin”. Tampaknya, harapan keluarga Soeharto tidak sesuai atau tidak klop dengan respon Presiden saat Hendarman datang ke RSPP.

Hendarman tetap dingin menceritakan penerimaan tidak nyaman dari keluarga Cendana. Hendarman mengaku, tidak adanya komunikasi atau tanggapan dari keluarga Soeharto mungkin disebabkan karena belum ketemu saja. Penyelesaian kasus perdata Soeharto menjadi isu sendiri yang mengalihkan keraguan orang atas kondisi kesehatan Soeharto sesungguhnya.

Semua pembela keluarga Soeharto lantas menyerang respon Presiden Yudhoyono untuk menyelesaikan kasus perdata Soeharto. Padahal, inisiatif penyelesaian itu menurut mantan Wapres Try Sutrisno dan Wapres Jusuf Kalla datang dari keluarga Soeharto.”Mungkin belum ketemu saja (antara harapan dan respon),” ujar Hendarman.

Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno membantah bahwa inisiatif untuk menyelesaikan kasus hukum perdata mantan Presiden Soeharto berasal dari keluarga Cendana. Ia menegaskan, inisiatif itu berasal dari dirinya pribadi.

Menurut Try, pernyataan ini ia sampaikan untuk menanggapi keterangan yang disampaikan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi yang hari Rabu menyebutkan inisiatif penyelesaian tidak berasal dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melainkan dari keluarga Cendana. “Saya pandang perlu untuk menyikapi informasi ini supaya tidak simpang siur,” ujar Try.

Ia menceritakan, pada saat menjenguk Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina, ia bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurut Try, saat itu adalah momen yang baik untuk menyampaikan solusi penyelesaian masalah perdata Soeharto.

“Pada Jumat malam, saya menelepon Pak Jusuf Kalla di kediaman beliau. Saya telepon Pak Jusuf sudah lewat jam 12 malam. Saya katakan, Pak Jusuf dalam momen yang penting malam ini, yang berkaitan dengan masalah perdata Soeharto, saya mohon kiranya dapat dicari penyelesaian yang cepat dan baik. Pak Jusuf menjawab, baik Pak Try,” tutur Try.

Selepas itu, Jaksa Agung Hendarman Supandji datang ke RSPP. “Pak Jaksa Agung itu tidak mungkin datang sebagai pribadi, tetapi utusan dari pemerintah. Saya tidak persoalkan siapa yang mengutus. Tapi Jaksa Agung itu datang sebagai respons, bukan pemerintah berinisiatif, tetapi sebagai respons karena saya menelepon,” papar Try.

Mengenai konsep penyelesaian perkara di luar pengadilan, Try mengatakan, ide itu bukan dari dirinya. Tawaran itu datang dari pemerintah. “Jaksa Agung datang sebagai utusan dengan membawa misi untuk menyelesaikan perkara perdata, caranya dengan out of court settlement itu. Prinsipnya musyawarah dengan win-win solution,” ungkap Try.

Dalam pertemuan antara Jaksa Agung dan putra-putri Soeharto, ujar Try, dia diminta mendampingi keluarga dan itu disetujui Jaksa Agung. Pertemuan itu hanya dihadiri Tutut, Sigit, Bambang, Titik, Mamiek, Tommy, Hendarman, dan dirinya. “Tidak ada orang lain, hanya itu yang ada dalam pertemuan itu,” katanya.

Saat ditanya apa bentuk tawaran win-win solution yang diajukan Jaksa Agung, Try enggan menjelaskan. “Tidak terlalu di-breakdown, saya tidak mengikuti itu. Saya lupa, tetapi sampai di situlah,” kata Try.

Selanjutnya, tambah Try, putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab dipanggil Tutut, memberikan jawaban. “Mbak Tutut menjawab, dalam masalah ini Pak, terima kasih Bapak datang ke sini, namun kami tidak bisa mengambil sikap dan menjawab, mengingat kewenangan yayasan ini ada pada Pak Harto dan sekarang Pak Harto sedang kritis dan tidak memungkinkan untuk berkomunikasi. Padahal, dalam yayasan, kedudukan Pak Harto adalah sebagai pembina yang berwenang untuk memutuskan,” tutur Try Sutrisno.

Optimistis
Meskipun tidak ditanggapi secara memuaskan oleh keluarga Soeharto saat datang ke RSPP, Jaksa Agung Hendarman Supandji optimistis upaya damai seperti diminta keluarga Soeharto dengan pencabutan gugatan pemerintah akan terwujud.

“(Penyelesaian itu) Bukan tidak ditanggapi. Belum ketemu saja (kesepakatannya),” ujar Hendarman setelah bertemu Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Kamis (17/1).Hendarman menceritakan pertemuannya dengan keluarga Soeharto di RSPP, pekan lalu. “Saya ketemu Mbak Tutut, Mas Bambang, Mbak Titiek, dan Mas Tommy. Saya sampaikan, saya datang karena pegang surat kuasa dari Presiden. Saya menyampaikan, kalau ke sana itu (pencabutan gugatan) mekanisme hukumnya melalui out of court settlement. Itu adalah alternative dispute resolution,” katanya.

Sementara itu kubu Soeharto menolak tawaran yang diajukan Jaksa Agung Hendraman Supandji. Kubu Soeharto yang diwakili tim kuasanya, menyatakan tidak akan ada perdamaian dengan pemerintah selaku pemberi kuasa bagi Jaksa Pengacara Negara (JPN) asal Kejagung.

“Perdamaian nggak ada. Penyelesaian out of court settlement (di luar pengadilan) bisa kalau gugatan dicabut tanpa syarat,” tegas kuasa hukum Soeharto, Juan Felix Tampubolon seusai persidangan gugatan perdata terhadap Soeharto dan Yayasan Supersemar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (15/1).

Ditegaskan Felix, pihaknya merasa yakin bahwa Pak Harto tidak bersalah dalam penggunaan dana Yayasan Supersemar. “Seperti yang disampaikan saksi ahli yang kita hadirkan tadi, bahwa laba bersih dari bank milik pemerintah yang disumbangkan ke Yayasan Supersemar bukan lagi menjadi keuangan negara,” lanjutnya. Sehingga, yayasan bisa menggunakan untuk beasiswa maupun investasi di berbagai perusahaan dengan tujuan mencari keuntungan.

Sementara itu, koordinator JPN Dachamer Munthe menegaskan, perdamaian dengan kubu Soeharto masih bisa dilakukan. “Perdamaian bisa terjadi sampai palu diketok,”. Menurut Dachamer, perdamaian atau win-win solution memang diharapkan Kejaksaan dalam gugatan ini.”Gugatan perdata, kan intinya tergugat mau bayar. Kalau mereka mau bayar, damailah kita,” lanjutnya.

Kendati demikian, JPN tetap akan terus melanjutkan gugatan ini sepanjang tidak ada perdamaian atau surat kuasa dari pemerintah dicabut. “Lihat saja, sidang jalan terus. Kita yakin menang. Kalau tidak yakin, ngapain kita fight seperti ini,” lanjut Dachamer. Sidang rencananya dilanjutkan Selasa pekan depan dengan agenda penyerahan bukti tambahan dari JPN. sofyan hadi

Detik-detik yang Menegangkan Itu
Kamis, 10 Januari 2008

10.00 – Presiden SBY bertolak ke Malaysia

Jumat, 11 Januari 2008
01.00 – Bambang Trihatmojo mengatakan kondisi Pak Harto masih lemah, namun masih bisa berkomunikasi dengan isyarat.
10.30 – Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebandono mengatakan kesehatan Pak Harto masih naik turun, sehingga belum bisa memastikan untuk memasang alat pacu jantung. Tim juga menemukan tanda-tanda awal infeksi di paru-paru Pak Harto.
11.30 – Sebanyak 15 orang keluarga korban pelanggaran HAM berunjuk rasa meminta agar proses hukum Pak Harto dituntaskan.
15.20 – Hutomo Mandala Putra menyampaikan ucapan terima kasih atas doa-doa yang dipanjantkan untuk Pak Harto. Dia juga mengatakan, keluarga masih memprioritaskan kesehatan Pak Harto dan belum memikirkan proses hokum dan lainnya.
19.00 – Beredar kabar Pak Harto dalam kondisi koma, seluruh keluarga Cendana telah berada di RSPP.
20.00 – Wapres Jusuf Kalla dan Mensesneg Hatta Radjasa mendadak mengunjungi Pak Harto di RSPP. Pengamanan sangat ketat, suasana di rumah sakit itu tampak tegang.
20.25 – Dilaporkan kondisi Pak Harto sudah kritis, seluruh peralatan medis sudah dilepas, hanya oksigen yang terlihat masih menempel di hidung. Namun, keterangan tertulis tim dokter kepresidenan yang diketuai Mardjo Soebandono menyebutkan, pada pukul 17.00 terjadi kegawatan, kesadaran menurun, pernapasan menurun 90/45 mmHg, sehingga dilakukan upaya tindakan demi kelangsungan hidup Pak Harto.
20.30 – Mantan Wapres Try Sutrisno, Quraish Sihab dan OC Kaligis datang.
20.50 – Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebandono menjelaskan kondisi Pak Harto sangat kritis sehingga terpaksa ditidurkan dengan alat bantu nafas ventilator.
22.45 – Setelah sejumlah pejabat pulang, adik angkat Suharto Sudwikatmono ikut pulang dan mengatakan Pak Harto sedang berbaring, sedangkan semua keluarga sudah kumpul dan menangis. Dilaporkan juga, keluarga Pak Harto sedang menggelar doa Yasinan di lantai 5 RSPP.
23.00 – Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebandono menegaskan, Pak Harto belum meninggal, sekarang ini kondisi tekanan darahnya 130/70 mmHg dengan alat bantu nafas ventilator dan alat menyedot cairan.
23.00 – Sejumlah tokoh masih berdatangan, di antaranya Wiranto, Solahudin Wahid dan bekas mantu Pak Harto, Prabowo.
23.15 – Dilaporkan, tim pengacara Pak Harto telah mengirimkan surat kepada Presiden SBY yang berisi agar pemerintah mencabut kuasa yang diberikan kepada Jaksa Agung untuk menggugat kasus perdata Yayasan Supersemar.
23.25 – Quraish Shihab usai menjenguk mengatakan, seluruh anggota keluarga Pak Harto sudah mengikhlaskan semuanya kepada Tuhan. Suasana di dalam kamar perawatan terlihat terharu.
23.30 – Presiden SBY menelepon Jaksa Agung Hendarman Supandji untuk melakukan pendekatan dengan keluarga besar Soeharto guna menyelesaikan kasus out of court settlement.
23.35 – Solahudin Wahid mengatakan melihat Pak Harto sedang tidur sementara peralatan medis masih terpasang, banyak yang mengaji dan banyak orang berkumpul.

Sabtu, 12 Januari 2008
00.00 – Satu per satu dokter kepresidenan pulang. Menurut salah satu dokter Christian A. Johannes, kondisi Pak Harto masih status quo, belum ada perubahan berarti, namun masih bisa dimonitor.
00.30 – Menkes Siti Fadilah Supari mengatakan kepada wartawan mendapat laporan pada pukul 18.00 bahwa Pak Harto sempat berhenti bernafas. Dia kemudian diminta pendapat perlu dipasangi ventilator, namun dijawab tidak usah, karena kasihan. Namun, pendapat Menkes tidak diindahkan keluarga Pak Harto. “Dia (Mbak Tutut) lebih berhak, kita bisa apalagi? Pukul 21.00 saya mendapat kabar bahwa alat tersebut sudah terpasang di Pak Harto.”
00.35 – Jaksa Agung Hendarman Supandji muncul di RSPP. Mengenakan jaket putih, dia tampak turun dari mobil Toyota Camri bernopol B 2035 BS didamping pengawal yang menumpang mobil B 8651 AQ. Dia langsung bergegas masuk rumah sakit.
01.40 – Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebandono mengatakan, alat bantu pernafasan masih terpasang, namun kondisi Pak Harto belum melewati masa kritis, tekanan darah 110/60 mmHg, dan pada pukul 01.30 dipasang ventilator infus penyedot cairan. “Memang sempat drop, namun setelah dipasang ventilator kondisinya semakin membaik. Kita berdoa saja, mudah-mudahan bertahan.”
01.50 – Jaksa Agung Hendarman Supandji keluar dari pintu lif rumah sakit, sementara sejumlah orang penting masih tetap menunggu di ruang perawatan Pak Harto. Kepada wartawan, dia mengatakan datang atas petunjuk Presiden SBY yang sedang berada di Malaysia. Usulan yang diajukan telah disampaikan ke putri Soeharto, Mbak Tutut. “Tapi dia belum memutuskan saat ini. Ini kan kasus perdatanya, jadi tuntutan pemerintah bisa dipertemukan di suatu titik,” katanya.
02.40 – Mantan wapres Try Sutrisno pulang, kepada wartawan dia mengatakan mendukung penyelesaian kasus perdata Pak Harto diselesaikan dengan aturan hukum melalui mekanisme di luar hukum.
03.00 – Sejumlah orang penting, termasuk anggota keluarga Pak Harto, satu per satu pulang.
10.00 – Ketua tim dokter kepresidenan Mardjo Soebandono mengatakan keadaan umum Pak Harto membaik, kesadaran sudah mulai menunjukan respon, tekanan darah stabil, pernafasan masih dibantu mesin pernafasan, penimbunan cairan dalam rongga perut juga berkurang.
10.30 – Presiden SBY tiba di Bandara Halim Perdanakusuma. SBY langsung menggelar rapat dengan tim dokter kepresidenan.
13.40 – Presiden SBY rapat kabinet terbatas di Cikeas, tampak hadir Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkopolkam Widodo AS serta Kapolri Jenderal Sutanto. Usai rapat, SBY mengatakan, “Beri kesempatan tim dokter mengatasi masalah kesehatan Pak Harto. Hentikan debat polemik dan silang pendapat yang kurang tepat untuk sekerang ini.” @

Entry filed under: TOPIK UTAMA. Tags: .

Antara Habibie dan Harmoko Selain Perlindungan, Bantu Juga Korban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 6,970 hits

Klik tertinggi

  • Tak ada

Kategori

NOMOR TELEPON PENTING

Pengaduan Hukum & HAM Komnas HAM 021-3925253 YLKI 021-7971378 LBH Jakarta 021-3145518 PBHI 021-322084 POLISI Mabes Polri 021-7218555 Polda Metro Jaya 021-5234000 Polres Jakarta Pusat 021-3909921-22 Polres Jakarta Utara 021-431394 Polres Jakarta Barat 021-5480303 Polres Jakarta Selatan 021-7206004 Polres Jakarta Timur 021-8191476 KODAM Kodam Jaya 021-8090837 Kodim Jakarta Pusat 021-6540103 Kodim Jakarta Utara 021-6512584 Kodim Jakarta Barat 021-5671189 Kodim Jaksel 021-7203070 Kodim Jakarta Timur 021-4804719 PEMADAM KEBAKARAN Jakarta Pusat 021-3841216 Jakarta Barat 021-5682284 Jakarta Timur 021-5852150 Jakarta Utara 021-493045 Jakarta Selatan 021-7694519
Jangan Asal Copy Paste Ya...

%d blogger menyukai ini: