Nafas Terakhir Tersangka Korupsi

Februari 22, 2008 at 9:03 pm Tinggalkan komentar

Tersangka kasus korupsi Nurdinsyah Mokobombang meninggal di dalam penjara karena tak punya biaya. Ambulan pun tak kunjung datang ketika dia terkena serangan jantung?

Ya, satu lagi tahanan yang meninggal di Lembaga Pemasyarakatan (LP). Dialah Nurdinsyah Mokobombang. Lelaki berusia 51 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya di sepetak ruang yang dihuni bersama enam tahanan lain, Rabu (20/2) dinihari sekitar pukul 01.30 WIB. Selama beberapa bulan ini, ia menempati kamar 1 Blok C di lantai 2 LP Cipinang, Jakarta.

Informasi yang diperoleh menyebutkan Nurdinsyah dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan mobil milik Iyul Sulinah, istri tersangka kasus Asabri, Henry Leo. Sedianya Nurdinsyah akan dibawa dengan menggunakan ambulans milik rumah sakit tersebut, namun karena ambulan yang ditunggu tak kunjung datang maka ia pun dilarikan ke rumah sakit dengan mobil Ford Escape milik Iyul yang sedang mengunjungi suaminya.

Informasi lain menambahkan, Nurdinsyah sejak ditahan sudah menunjukkan tanda-tanda kurang sehat. Bahkan catatan kesehatannya menunjukkan yang bersangkutan menderita sakit jantung. Nurdinsyah terkena serangan jantung ketika akan membuat minuman selepas shalat maghrib. Ketika itu tiba-tiba ia terjatuh dan segera ditolong oleh rekan-rekannya sesama tahanan.

Menurut salah satu rekan tahanan, Tito Pranolo, mantan direktur Bulog, rekan-rekan sesama tahanan akan turut membantu biaya perawatan Nurdinsyah. “Kami rekan-rekannya di tahanan sepakat untuk urunan biaya perawatan,” katanya.

Kali pertama ia ditahan pada 6 Agustus 2007 oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Raswali Hermawan dari Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi proyek pemanfaatan data penginderaan jauh Lembaga Penerbangan dan Antarariksa Nasional (Lapan) tahun 2003 sebesar Rp3,1 miliar. Saat itu, ia masih menghuni Cabang Rumah Tahanan (Rutan) Salemba pada Rutan Kejaksaan Agung RI. Tidak lama kemudian, penahanannya dipindahkan ke LP Cipinang.

Sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Timur oleh majelis hakim yang dipimpin Herry Supriyono, ia lakoni pada 10 September 2007. Namun, ia kemudian dibantar di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, lantaran menderita sakit jantung.

Menurut Jaksa, Nurdinsyah merupakan pimpinan proyek (pimpro) pemanfaatan data penginderaan jauh untuk inventarisasi sumber daya alam dan lingkungan pada pusat pengembangan pemanfaatan dan teknologi penginderaan jauh (pusbangja) Lapan tahun anggaran 2003. Proyek Lapan tersebut seluruhnya bernilai Rp9 miliar lebih. Pendanaannya diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun anggaran 2003.

Jaksa menuduh, sebelum panitia pengadaan barang terbentuk, Nurdinsyah membuat dan menandatangani surat penunjukan langsung yang ditujukan kepada Kapusbangja Lapan Drs Badawi Hasyim. Surat itu bertanggal 30 Oktober 2003. “Yang menentukan penunjukan langsung harusnya panitia pengadaan barang,” kata Jaksa.

Menurut Jaksa, ketika dilakukan audit dalam proyek pengadaan barang tersebut, terdapat selisih Rp3,1 miliar dari dana yang dikucurkan. Selisih dana ini, sudah dikembalikan Nurdinsyah ke kejaksaan sejumlah Rp1,05 miliar.

Jaksa merinci, ada beberapa poin pengadaan barang dan kegiatan yang menyebabkan kerugian negara. Antara lain kegiatan sosialisasi, pengadaan mesin, pengadaan data primer dan sekunder, peralatan dan perangkat keras, serta data standar satelit. Perbuatan Nurdinsyah, dijerat melanggar Pasal 2 jo Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Buka-bukaan
Tiga bulan berselang, kondisinya dinyatakan pulih. Nurdinsyah tidak lagi menjalani pembantaran. Tapi ia pun harus duduk kembali di kursi pesakitan. Di kursi itu, keadilan ia cari. Di kursi itu pula kebenaran atas apa yang dituduhkan terhadapnya coba diungkapkan.

Terakhir, ia diperiksa Selasa (19/2). Agendanya saat itu pemeriksaan dia sebagai terdakwa. Dari mulutnya, seolah mengungkap sebuah tabir konspirasi di tubuh Lapan. Kalau memang ia dipersalahkan–nantinya-, katanya, bukan cuma dia saja yang harus dijerumuskan ke penjara.

“Saya tidak mau menyebutkan satu-satu siapa yang dapat bagian, tapi semua menikmati dana proyek itu. Mulai dari deputi sampai Kapus (Kepala Pusat) Lapan,” cetus Nurdinsyah.

Menurut Nurdinsyah, konsep proyek Lapan disusun oleh para deputi dan Kapus Lapan. Dia lalu ditunjuk sebagai pimpinan proyek (pimpro) untuk mengerjakannya. “Awalnya saya sudah berkali-kali menolak, tapi karena atasan terus mendesak agar saya memegang proyek itu, mau bagaimana lagi. Saya kan cuma bawahan,” keluh Nurdinsyah.

“Kenapa terdakwa menolak?” tanya majelis hakim. Nurdinsyah beralasan, proyek itu tidak memungkinkan lagi untuk dikerjakan. Keterbatasan waktu dikatakan menjadi kendala.

“Apalagi, barang-barang diminta didatangkan dari Inggris. Untuk mendatangkannya saja butuh waktu lama, bisa satu sampai dua tahun,” lanjutnya. Permintaan mendatangkan barang dari Inggris itu sempat dipertanyakan oleh Nurdinsyah. “Kenapa harus dari Inggris. Padahal di Indonesia juga tersedia barangnya,” kata Nurdinsyah.

Saat ditunjuk memimpin proyek Lapan, dia bahkan sudah berfirasat di kemudian hari dirinya bisa terkena masalah. “Itu proyek gila,” cetusnya.

Jika almarhum Nurdinsyah berfirasat akan masalah yang kemudian dihadapinya, majelis hakim yang memimpin pemeriksaan kasus Nurdinsyah juga sempat merasakan firasat akan kata-kata yang diucapkan Nurdinsyah dalam permohonannya kepada majelis hakim. Sebelum sidang ditutup, Nurdinsyah mengajukan permohonan yang terdengar janggal di telinga ketua majelis hakim.

“Maaf yang mulia, ada yang mau saya sampaikan lagi. Mungkin ini bisa menjadi permohonan saya yang terakhir,” demikian Herry, ketua majelis hakim, menirukan kata-kata Nurdinsyah. Saat mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Nurdinsyah, Herry mengaku, sebenarnya dia merasa agak merinding. “Saya nggak nyangka. Ternyata dia meninggal,” kata Herry Supriyono.

Rencananya, sepekan setelah Nurdinsyah diperiksa, Jaksa akan mengajukan nota tuntutan terhadapnya. Tapi, apa lagi yang akan dituntutkan, toh yang empunya perkara sudah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kalisari, Jakarta Timur.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Sjafril SH, ketika dihubungi Tabloid Sensor, Rabu (20/2) sore, mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab meninggalnya sarjana fisika tersebut. “Dulu kan dia sempat dibantar karena sakit jantung. Kemungkinan dia meninggal karena penyakit yang dideritanya itu. Ini saya masih mau menyiapkan laporannya,” cetus Sjafril.

Ketika ditanya kelanjutan proses hukum kasus korupsi dimaksud, Sjafril justru bertanya, “Ya bagaimana menurut KUHAP. Gugur atau apa istilahnya”

Terkait meninggalnya Nurdinsyah, Sjafril mengatakan, pihak kejaksaan sudah menerima surat keterangan medis dari RS LP Cipinang berikut dokumen Berita Acara Penyerahan Jenazah yang ditandatangani Kepala Kantor LP Cipinang yang diwakili Subroto, dan pihak keluarga almarhum yang diwakili Ahmad WS Dilapanga. Jenazah Nurdinsyah diambil pihak keluarganya Rabu pagi (20/2) sekitar pukul 06.00 WIB.

Ironisnya, dalam surat keterangan medis maupun Berita Acara Penyerahan Jenazah, penyebab kematian Nurdinsyah tidak disebutkan secara spesifik. Disitu tertulis, meninggalnya Nurdinsyah hanya akibat sakit, tanpa jelas menyebut sakit apa. Bahkan, nama dokter RS LP Cipinang pun tidak dicantumkan.

Kepala LP Cipinang Havilluddin mengatakan, Nurdinsyah meninggal di sel tahanan lantaran sakit jantung. Di sel tahanan, Nurdinsyah menghuni bersama enam orang tahanan lain.
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kemas Yahya Rahman, kepada wartawan, mengatakan, jika seorang tersangka atau terdakwa meninggal dunia, maka proses hukumnya berakhir.

Istri almarhum, Siti Hartani, mengakui suaminya memang menderita penyakit jantung. Sejak ditahan Kejaksaan agung, kata Siti, pihak keluarga beberapa kali mengajukan penangguhan penahanan agar lebih memudahkan perawatannya. Tapi permohonannya itu ditolak. mahadir romadhon

Entry filed under: AKTUAL, SENSOR HUKUM. Tags: .

Apa Kabar Jaksa Kasus BI? Mengapa Meninggal di Penjara?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Blog Stats

  • 5,568 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Kategori

NOMOR TELEPON PENTING

Pengaduan Hukum & HAM Komnas HAM 021-3925253 YLKI 021-7971378 LBH Jakarta 021-3145518 PBHI 021-322084 POLISI Mabes Polri 021-7218555 Polda Metro Jaya 021-5234000 Polres Jakarta Pusat 021-3909921-22 Polres Jakarta Utara 021-431394 Polres Jakarta Barat 021-5480303 Polres Jakarta Selatan 021-7206004 Polres Jakarta Timur 021-8191476 KODAM Kodam Jaya 021-8090837 Kodim Jakarta Pusat 021-6540103 Kodim Jakarta Utara 021-6512584 Kodim Jakarta Barat 021-5671189 Kodim Jaksel 021-7203070 Kodim Jakarta Timur 021-4804719 PEMADAM KEBAKARAN Jakarta Pusat 021-3841216 Jakarta Barat 021-5682284 Jakarta Timur 021-5852150 Jakarta Utara 021-493045 Jakarta Selatan 021-7694519
Jangan Asal Copy Paste Ya...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: